Jumat, 30 Januari 2015

Yuk belajar kimia

Dibilang susah ya susah sih temen-temen, karena apa ? ya karena banyak banget rumus-rumus kimia yang harus kita hafalkan seperti rumus senyawa dll.. Belum lagi untuk teman-teman skavela jurusan kimia pasti banyak banget kan materi produktif yang sangat bersangkut paut dengan kimia yang harus semuanya kita telan hehe. Ups ups tunggu tunggu, kalian tidak dengan hati sih mempelajari kimia, coba deh kalau kalian memahami dengan hati , huu gak ada yang namanya kimia itu susah, malahan serasa kimia itu uasyuik. Ini nih yang bisa membantu :

Video cara mudah menghafalkan rumus kimia (Hidrokarbon)

https://www.youtube.com/watch?v=nG4bF64MdiE

Kimia Dasar

Kimia Dasar

Stoikiometri


Dalam ilmu kimia, stoikiometri (kadang disebut stoikiometri reaksi untuk membedakannya
dari stoikiometri komposisi) adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan
kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia). Kata ini berasal
dari bahasa Yunani stoikheion (elemen) dan metriā (ukuran).
Stoikiometri didasarkan pada hukum-hukum dasar kimia, yaitu hukum kekekalan massa,
hukum perbandingan tetap, dan hukum perbandingan berganda.
Contoh: \rm{} \frac{2.00 \ g \ NaCl}{58.44 \ g \ NaCl \ mol^{-1}} = 0.034 \ mol
\rm{}\left(\frac{2.00 \ g \ NaCl}{1}\right)\left(\frac{1 \ mol \ NaCl}{58.44 \ g \ NaCl}\right) = 0.034 \ mol
\rm{} \left(\frac{85 \ g \ Fe_2 O_3}{1}\right)\left(\frac{1 \ mol \ Fe_2 O_3}{160 \ g \ Fe_2 O_3}\right)\left(\frac{2 \ mol \ Al}{1 \ mol \ Fe_2 O_3}\right)\left(\frac{27 \ g \ Al}{1 \ mol \ Al}\right) = 28.6875 \ g \ Al


Tahap Awal Stoikiometri

Di awal kimia, aspek kuantitatif perubahan kimia, yakni stoikiometri reaksi kimia, tidak
mendapat banyak perhatian. Bahkan saat perhatian telah diberikan, teknik dan alat
 percobaan tidak menghasilkan hasil yang benar.
Salah satu contoh melibatkan teori flogiston. Flogistonis mencoba menjelaskan fenomena
 pembakaran dengan istilah “zat dapat terbakar”. Menurut para flogitonis, pembakaran
adalah pelepasan zat dapat etrbakar (dari zat yang terbakar). Zat ini yang kemudian
disebut ”flogiston”. Berdasarkan teori ini, mereka mendefinisikan pembakaran sebaga
i pelepasan flogiston dari zat terbakar. Perubahan massa kayu bila terbakar cocok dengan
 baik dengan teori ini. Namun, perubahan massa logam ketika dikalsinasi tidak cocok
 dengan teori ini. Walaupun demikian flogistonis menerima bahwa kedua proses
 tersebut pada dasarnya identik. Peningkatan massa logam terkalsinasi adalah
merupakan fakta. Flogistonis berusaha menjelaskan anomali ini dengan menyatakan
bahwa flogiston bermassa negatif.
Di akhir abad 18, kimiawan Jerman Jeremias Benjamin Richter (1762-1807) menemukan
 konsep ekuivalen (dalam istilah kimia modern ekuivalen kimia) dengan pengamatan teliti
 reaksi asam/basa, yakni hubungan kuantitatif antara asam dan basa dalam reaksi netralisasi.
Ekuivalen
 Richter, atau yang sekarang disebut ekuivalen kimia, mengindikasikan sejumlah
 tertentu materi dalam reaksi. Satu ekuivalen dalam netralisasi berkaitan dengan
hubungan antara sejumlah asam dan sejumlah basa untuk mentralkannya.
Pengetahuan yang tepat tentang ekuivalen sangat penting untuk menghasilkan
sabun dan serbuk mesiu yang baik. Jadi, pengetahuan seperti ini sangat penting secara praktis.
Pada saat yang sama Lavoisier menetapkan hukum kekekalan massa,
dan memberikan dasar konsep ekuivalen dengan percobaannya yang akurat
dan kreatif. Jadi, stoikiometri yang menangani aspek kuantitatif reaksi kimia
menjadi metodologi dasar kimia. Semua hukum fundamental kimia, dari hukum
kekekalan massa, hukum perbandingan tetap sampai hukum reaksi gas semua
didasarkan stoikiometri. Hukum-hukum fundamental ini merupakan dasar teori
atom, dan secara konsisten dijelaskan dengan teori atom. Namun, menarik untuk
dicatat bahwa, konsep ekuivalen digunakan sebelum teori atom dikenalkan.

Massa Atom Relatif

Dalton mengenali bahwa penting untuk menentukan massa setiap atom karena
 massanya bervariasi untuk setiap jenis atom. Atom sangat kecil sehingga tidak
mungkin menentukan massa satu atom. Maka ia memfokuskan pada nilai relatif
massa dan membuat tabel massa atom (gambar 1.3) untuk pertamakalinya dalam
sejarah manusia. Dalam tabelnya, massa unsur teringan, hidrogen ditetapkannya satu
sebagai standar (H = 1). Massa atom adalah nilai relatif, artinya suatu rasio tanpa dimensi.
Walaupun beberapa massa atomnya berbeda dengan nilai modern, sebagian besar nilai-nilai
 yang diusulkannya dalam rentang kecocokan dengan nilai saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa
 ide dan percobaannya benar.
Kemudian kimiawan Swedia Jons Jakob Baron Berzelius (1779-1848) menentukan massa
atom dengan oksigen sebagai standar (O = 100). Karena Berzelius mendapatkan nilai ini
 berdasarkan analisis oksida, ia mempunyai alasan yang jelas untuk memilih oksigen
sebagai standar. Namun, standar hidrogen jelas lebih unggul dalam hal kesederhanaannya.
Kini, setelah banyak diskusi dan modifikasi, standar karbon digunakan. Dalam metoda ini,
massa karbon 12C dengan 6 proton dan 6 neutron didefinisikan sebagai 12,0000. Massa
 atom dari suatu atom adalah massa relatif pada standar ini. Walaupun karbon telah
 dinyatakan sebagai standar, sebenarnya cara ini dapat dianggap sebagai standar 
hidrogen yang dimodifikasi.
Soal Latihan 1.1 Perubahan massa atom disebabkan perubahan standar.
Hitung massa atom hidrogen dan karbon menurut standar Berzelius (O = 100).
Jawablah dengan menggunakan satu tempat desimal.
Jawab.
Massa atom hidrogen = 1 x (100/16) = 6,25 (6,3), massa atom karbon = 12 x (100/16)=75,0
Massa atom hampir semua unsur sangat dekat dengan bilangan bulat, yakni kelipatan
 bulat massa atom hidrogen. Hal ini merupakan kosekuensi alami fakta bahwa
massa atom hidrogen sama dengan massa proton, yang selanjutnya hampir
sama dengan massa neutron, dan massa elektron sangat kecil hingga dapat
 diabaikan. Namun, sebagian besar unsur yang ada secara alami adalah
campuran beberapa isotop, dan massa atom bergantung pada distribusi
 isotop. Misalnya, massa atom hidrogen dan oksigen adalah 1,00704 dan
15,9994. Massa atom oksigen sangat dekat dengan nilai 16 agak sedikit lebih kecil.
Contoh Soal 1.2 Perhitungan massa atom. Hitung massa atom magnesium
dengan menggunakan distribsui isotop berikut: 24Mg: 78,70%; 25Mg: 10,13%, 26Mg: 11,17%.
Jawab:
0,7870 x 24 + 0,1013 x 25 +0,1117 x 26 = 18,89+2,533+2,904 = 24,327(amu; lihat bab 1.3(e))
Massa atom Mg = 18,89 + 2,533 + 2,904 =24.327 (amu).
Perbedaan kecil dari massa atom yang ditemukan di tabel periodik (24.305) hasil dari
 perbedaan cara dalam membulatkan angkanya.
hitunglah massa dari gas metana 1,23 liter diukur pada suhu 25c dan tekanan 1 atm